Baca Notice Blog

Baca Notice Terbaru disini.

Donasi Untuk Blog ini

Berikan Donasi seikhlasnya.

Tafsir dan isi kandungan QS. al-Baqarah (2): 30-32

Tafsir dan isi kandungan QS. al-Baqarah (2): 30-32

Baca Juga



A.    Tafsir QS. AL-BAQARAH: 30
Setelah membicarakan tentang kemahabesaran Allâh  Azza wa Jalla sebagai Pencipta apa saja yang ada di bumi untuk manusia dan mengingatkan manusia untuk tidak lalai beribadah kepada-Nya, selanjutnya Allâh  Azza wa Jalla perlu menjelaskan kepada manusia tentang tugas-tugas lain mereka di muka bumi yaitu menjadi khalifah Allâh  Azza wa Jalla.
وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُكَ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

30. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi itu seorang khalifah.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30)

            Terjemahan makna ayat 30 tersebut seringkali terlihat terdapat penambahan kata ingatlah , seperti terlihat di atas. Ada penjelasan untuk itu terkait dengan ilmu dalam bahasa Arab. Hal itu terkait erat dengan kata idz yang oleh sebagian orang dianggap sebagai huruf tambahan (zâ’idah). Jumhur Mufassir menyatakan bahwa huruf idz sesudah huruf wawu bukanlah tambahan. Huruf idz di ayat tersebut sesungguhnya digantungkan (mu’allaqah) dengan kata kerja (fi’l) yang muqaddar yang taqdirnya adalah wadzkur idz qâla.[1] Itulah mengapa sebabnya dalam terjemahan maknanya mendapat tambahan kata ingatlah meskipun di teks al-Qur’an-nya tidak terdapat kata udzkur dalam bentuk fi’l amr.
Ayat tersebut di atas memerintahkan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk mengingat apa yang pernah disampaikan Allâh Azza wa Jalla kepada para Malaikat-Nya.[2] Hal ini sekaligus sebuah isyarat bagi Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan dan mengingatkan kembali umatnya tentang tugas yang pernah dibebankan kepada manusia pada awal penciptaannya. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umatnya disuruh untuk mengingat suatu peristiwa ketika Allâh Azza wa Jalla berfirman kepada para Malaikat terkait rencananya menciptakan dan mengangkat seorang khalifah di muka bumi. Khalifah itu, dalam rencana Allâh Azza wa Jalla, dimaksudkan untuk menggantikan peran Allâh Azza wa Jalla dalam melaksanakan hukum-hukum-Nya. Khalifah itu adalah Adam‘alaihi al-salâm dan juga kaum-kaum sesudahnya yang sebagian menggantikan sebagian lainnya di kurun waktu dan generasi yang berbeda. Demikian penjelasan dari Muhammad Ali al-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwah al-Tafasir: Tafsir li al-Qur’an al-Karim.[3]
Terkait rencana besar Allâh Azza wa Jalla itu para Malaikat mempertanyakannya kepada Allâh  karena keheranan (al-ta’ajjub), keingintahuan (al-isti’lâm), dan keinginan membuka tabir kebijaksanaan Allâh  (istiksyâf ‘an al-hikmah), bukan karena meragukan dan memprotes kebijakan Allâh Azza wa Jalla. Penulis tidak setuju dengan penafsiran sebagian orang yang menafsirkan bahwa para Malaikat memprotes Allâh  atas kebijakan-Nya akan menciptakan khalifah di muka bumi. Sebagian yang lain bahkan menggunakan kata yang lebih ekstrim bahwa para Malaikat mendemo Allâh . Tidak! Sama sekali tidak seperti itu. Para Malaikat tidak sedang protes. Bagaimana mungkin mereka memprotes padahal mereka, seperti dinyatakan Allâh Azza wa Jalla sendiri dalam al-Qur’an sebagai makhluq yang tidak pernah membangkang perintah Allâh  dan bahkan senantiasa taat melaksanakan apa pun yang diperintahkan Allâh  bagi mereka.[4] Selain itu dapat diketahui dari penggunaan huruf alif sebelum fi’l mudhâri’ yang merupakan harf al-istifhâm yang berarti apakah, bukan mengapa. Para Malaikat bertanya apakah Allâh  Azza wa Jalla perlu menciptakan khalifah jika dia dan keturunannya nanti menurut pemberitahuan Allâh  kepada para Malaikat-Nya adalah akan berpotensi melakukan kerusakan di muka bumi.[5] Kalaulah yang Allâh  inginkan adalah agar mereka beribadah kepada-Nya, bukankah selama ini para Malaikat senantiasa bertasbih dan mentaqdiskan (mensucikan) Allâh  Azza wa Jalla ?
Mufassir lain menganggap bahwa para Malaikat bertanya berdasarkan ketidaktahuan mereka sehingga mereka menduga-duga jangan-jangan makhluk itu tidak seperti mereka. Jangan-jangan mereka adalah makhluk yang durhaka (ma’shiyah) kepada Allâh Azza wa Jalla dan pada akhirnya hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi Allâh Azza wa Jalla dengan berperang dan saling berbunuhan. Hal itu didasarkan kepada dugaan yang mereka anggap sebagai pengetahuan spesifik (‘ilm khâssh) mereka bahwa jenis makhluq yang akan diciptakan Allâh  itu memiliki kecenderungan melakukan kerusakan dan pertumpahan darah.[6] Sebagian Mufassir mendasarkan dugaan para Malaikat terhadap makhluq Allâh  bernama Jinn yang pernah menghuni bumi terlebih dahulu dan mereka melakukan kerusakan di muka bumi. Keterangan seperti ini didasarkan kepada keterangan al-Dhahak yang bersumber kepada Ibn ‘Abbas dan keterangan Mujahid yang bersumber kepada Abdullah ibn ‘Amr.[7]
Pertanyaan dan anggapan (bukan keraguan dan perasaan dengki) para Malaikat dijawab oleh Allâh Azza wa Jalla bahwa semua itu sudah diperhitungkan secara matang atas dasar Kemahatahuan-Nya yang melampaui pengetahuan semua makhluq-Nya, termasuk para Malaikat. Semua yang akan Allâh Azza wa Jalla lakukan atas makhluq-Nya sudah Allâh  Azza wa Jalla skenariokan dengan penuh detil yang tidak ada cacatnya. “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” Allâh Azza wa Jalla bermaksud menyadarkan para Malaikat-Nya bahwa sesungguhnya Dia mengetahui kemaslahatan dan hikmah sesuatu yang tidak mereka ketahui. Termasuk dalam penciptaan seorang khalifah, tentu ada suatu hikmah yang boleh jadi tidak mereka ketahui.
  عَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِى بِأَسْمَآءِ هَــؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
“31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian mamang orang-orang yang benar!” (QS al-Baqarah [2]: 31)

Selanjutnya Allâh  mengajarkan kepada Adam nama-nama. Dan adalah hak Allâh  Azza wa Jalla sepenuhnya untuk mengajarkan sesuatu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Oleh Allâh Azza wa Jalla, Adam as diajari oleh Allâh  nama-nama ciptaan-ciptaan Allâh Azza wa Jalla (al-makhluqât). Setelah nama-nama itu dapat Adam ketahui dan ingat dengan baik, selanjutnya Allâh  Azza wa Jalla perlu membuktikan apa yang pernah disampaikan-Nya kepada para Malaikat terkait kemahatahuan-Nya. Oleh Allâh Azza wa Jalla, nama-nama itu diajukan kepada Malaikat untuk mereka sebutkan satu persatu jika mereka benar-benar mengetahuinya. Hal ini penting karena akan berkait erat dengan pernyataan Allâh  di ayat terdahulu, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
قَالُوْا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
32. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Baqarah [2]: 32)
            Malaikat mengakui keterbatasan pengetahuan mereka. Mereka tidak mampu menyebutkan nama-nama yang ditunjuk oleh Allâh Azza wa Jalla. Mereka juga menyadari bahwa pengajar mereka adalah Allâh  Yang Maha ‘Alim lagi Maha Hakim. “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
            Semua makhluq Allâh  diberi pengetahuan yang terbatas sifatnya, termasuk para Malaikat yang lebih banyak mengetahui hal-hal yang ghaib menurut pandangan manusia. Hanya Allâh  sendirilah yang paling mengetahui apa saja yang ada di alam Allâh  Azza wa Jalla, langit maupun bumi, dunia maupun akhirat. Karena Dia Yang Maha Tahu, maka banyak sekali kebijaksanaan-Nya (hikmah) yang tidak akan mampu ditembus oleh makhluq-Nya, kecuali jika Allâh  sendiri yang berkenan memberitahukannya. Karena itu Allâh Azza wa Jalla disebut sebagai hakîm, Yang Maha Bijaksana, yang memiliki kebijaksanaan yang paling tinggi. Meskipun terkadang para Malaikat kurang mengerti. Meskipun terkadang akal manusia menemui kebuntuan dalam membaca kebijaksanaan-Nya.

قَالَ يَـــــــئَادَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قاَلَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّى أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَ أَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
33. ”Allâh  berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh  berfirman: “Bukankah sudah Aku katakan kepada kalian, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan?”

            Untuk membuktikan kebenaran Allâh Azza wa Jalla dan kesalahan mereka yang terkesan mengesampingkan kemahatahuan dan kebijakan-Nya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Adam menyebutkan nama-nama itu. Adam pun dengan patuh menyebutkan nama-nama itu dengan sebaik-baiknya sehingga Allâh Azza wa Jalla perlu menyatakan kepada para Malaikat-Nya, “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”
            Bukan hanya sekedar mengajarkan nama-nama yang tidak mereka ketahui kepada Adam. Apa saja yang ada di langit dan di bumi Allâh Azza wa Jalla mengetahuinya dengan baik. Pengetahuan Allâh Azza wa Jallabahkan meliputi apa yang disampaikan para Malaikat dan apa yang disembunyikan di dalam diri mereka berupa persangkaan mereka terhadap bakal khalifah Allâh Azza wa Jalla di muka bumi.
وَإِذْقَالَ لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لِأَدَمَ فَسَجَدُوْا إِلَّا إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ
34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan membesarkan diri dan adalah ia termasuk golongan yang Kafir.” (QS al-Baqarah [2]: 34)
            Setelah para Malaikat menyadari keagungan Allâh  Azza wa Jalla dan mengetahui sebagian hikmah dari penciptaan seorang khalifah di muka bumi, selanjutnya Allâh  Azza wa Jalla memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepada Adam ‘alaihi al-salâm. Sujud yang dimaksud di sini bukanlah sujud sebagaimana layaknya sujudnya seorang hamba kepada Sang Pencipta (al-Khâliq).[8] Sujud yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla adalah sujud penghormatan (tahiyyah) dan pemuliaan (ta’zhîm) terhadap Adam sebagai makhluq ciptaan Allâh Azza wa Jallayang memiliki kelebihan atas makhluq yang lain karena adanya karunia Allâh Azza wa Jalla,[9] bukan sujud memperhambakan diri (sujûd ’ibâdah). Kita semua telah sama-sama mafhum bahwa sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata untuk Allâh Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Esa. Bukan untuk yang selain AllâhAzza wa Jalla.
            Menghadapi perintah Allâh Azza wa Jalla itu para Malaikat Allâh Azza wa Jalla sujud kepada Adam karena taat dan patuh melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla. Namun ternyata ada yang tidak mau turut bersujud, yaitu Iblis. Penyebutan nama Iblis setelah penyebutan nama Malaikat dalam bentuk kalimat seperti dalam ayat tersebut di atas membawa kesan bahwa Iblis termasuk golongan dari Malaikat. Sebagian Mufassir menyatakan bahwa Iblis adalah termasuk golongan Malaikat. Sebagai bukti bahwa Iblis merupakan bagian dari Malaikat adalah karena perintah itu sejak awal adalah ditujukan kepada para Malaikat-Nya. Selanjutnya ada pernyataan tentang sujudnya para Malaikat-Nya dalam bentuk kata kerja lampau (f’il mâdhi). Setelah adanya penjelasan adanya perbuatan sujud ternyata ada pengecualian yang ditunjukkan dengan huruf istitsnâ’ (exception, pengecualian).[10] Dan yang dikecualikan itu bernama Iblis.


[1] Abdurrahman al-Tsa’alabi. 1996. Al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Qur’an. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut, Lebanon, Jilid 1, hlm. 58
[2] Malaikat (malâikah, b. Arab) adalah bentuk plural (jama’) dari kata tunggal (mufradmalak. Adalah makhluq Allâh  yang tercipta dari cahaya (nûr). Ia adalah sesuatu yang ghaib yang tidak tersentuh oleh indera manusia karena tidak berwujud jasmani, hanya Allâh  Azza wa Jalla yang mengetahui hakikat sebenarnya Malaikat. Tidak seperti manusia, mereka tidak makan dan tidak pula minum karena mereka disucikan dari syahwat binatang (syahawât hayawâniyyah) dan juga terbebas dari kecenderungan nafsu (al-muyûl al-nafsiyyah), serta bersih dari dosa dan kesalahan. Mereka juga tidak disifatkan dengan sifat lelaki maupun perempuan. Lihat al-Sayyid Sabiq. 1992. Al-‘Aqa’id al-Islamiyyah. Dar al-Fikr: Beirut, Lebanon, hlm. 111-129
[3] Lihat Muhammad Ali al-Shabuni. 1999. Shafwah al-Tafasir: Tafsir li al-Qur’an al-Karim. Dar al-Kutub al-Islamiyyah:Jakarta, Indonesia, Jilid 1, hlm. 48
[4] Lihat Q.S. al-Tahrim [66]: 6
  يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh  terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
[5] Qatadah termasuk diantara tokoh yang menjelaskan bahwa Allâh  sudah memberitahu para Malaikat terkait kemungkinan-kemungkinan khalifah bebuat kerusakan dan berperang menumpahkan darah. Lihat Abu al-Fida’ al-Hafizh ibn Katsir. 1997. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Dar al-Fikr: Beirut, Lebanon, Jilid 1, hlm. 83
[6] Abu al-Fida’ al-Hafizh ibn Katsir. 1997. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Dar al-Fikr: Beirut, Lebanon, Jilid 1, hlm. 83
[7] Lihat Abu al-Fida’ al-Hafizh ibn Katsir. 1997. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Dar al-Fikr: Beirut, Lebanon, Jilid 1, hlm. 85
[8] السجود في الشرع وضع الجبهة على قصد العبادة , dalam pandangan syara’, sujud adalah meletakkan dahi (di bumi) dengan tujuan ibadah. Lihat Nashiruddin al-Baidhawi. 2003. Tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut, Lebanon, Jilid 1, hlm. 52
[9] Terutama karena Adam dianugerahi ilmu dan mendapat tugas mengelola bumi
[10] Dalam kaedah bahasa Arab, istitsnâ’ ada dua macam, muttashil dan munqathi’. Dalam istitsnâ’ muttashil, yang dikecualikan adalah bagian dari kelompok atau jenis yang sama dengan sebelumnya. Sedangkan istitsnâ’ munqathi’, yang dikecualikan tidak termasuk bagian dari kelompok atau jenis yang disebut sebelumnya.



LAPORKAN MASALAH LINK TIDAK AKTIF

Langganan Artikel