Baca Juga
A.
Tafsir
QS. AL-BAQARAH: 30
Setelah membicarakan tentang
kemahabesaran Allâh Azza wa Jalla sebagai
Pencipta apa saja yang ada di bumi untuk manusia dan mengingatkan manusia untuk
tidak lalai beribadah kepada-Nya, selanjutnya Allâh Azza wa Jalla perlu menjelaskan kepada manusia
tentang tugas-tugas lain mereka di muka bumi yaitu menjadi khalifah Allâh
Azza wa Jalla.
وَإِذْقَالَ
رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا
أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ
نُسَبِّحُكَ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا
تَعْلَمُوْنَ
“30. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka
bumi itu seorang khalifah.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa
yang tidak kalian ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30)
Terjemahan makna ayat 30 tersebut seringkali terlihat terdapat penambahan
kata ingatlah , seperti terlihat di atas. Ada
penjelasan untuk itu terkait dengan ilmu dalam bahasa Arab. Hal itu terkait
erat dengan kata idz yang oleh sebagian orang
dianggap sebagai huruf tambahan (zâ’idah). Jumhur
Mufassir menyatakan bahwa huruf idz sesudah
huruf wawu bukanlah tambahan. Huruf idz di ayat tersebut sesungguhnya digantungkan (mu’allaqah) dengan kata kerja (fi’l) yang muqaddar yang
taqdirnya adalah wadzkur idz qâla.[1] Itulah mengapa
sebabnya dalam terjemahan maknanya mendapat tambahan kata ingatlah meskipun di teks al-Qur’an-nya tidak
terdapat kata udzkur dalam bentuk fi’l amr.
Ayat tersebut di atas memerintahkan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk mengingat apa
yang pernah disampaikan Allâh Azza wa Jalla kepada
para Malaikat-Nya.[2]
Hal ini sekaligus sebuah isyarat bagi Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan
dan mengingatkan kembali umatnya tentang tugas yang pernah dibebankan kepada
manusia pada awal penciptaannya. Nabi Muhammad shallallâhu
‘alaihi wa sallam dan umatnya disuruh untuk mengingat suatu
peristiwa ketika Allâh Azza wa Jalla berfirman
kepada para Malaikat terkait rencananya menciptakan dan mengangkat seorang
khalifah di muka bumi. Khalifah itu, dalam rencana Allâh Azza wa Jalla, dimaksudkan untuk menggantikan peran
Allâh Azza wa Jalla dalam melaksanakan hukum-hukum-Nya.
Khalifah itu adalah Adam‘alaihi al-salâm dan
juga kaum-kaum sesudahnya yang sebagian menggantikan sebagian lainnya di kurun
waktu dan generasi yang berbeda. Demikian penjelasan dari Muhammad Ali
al-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwah al-Tafasir: Tafsir li
al-Qur’an al-Karim.[3]
Terkait rencana besar Allâh Azza wa Jalla itu
para Malaikat mempertanyakannya kepada Allâh karena keheranan (al-ta’ajjub), keingintahuan (al-isti’lâm),
dan keinginan membuka tabir kebijaksanaan Allâh (istiksyâf ‘an al-hikmah), bukan karena meragukan
dan memprotes kebijakan Allâh Azza wa Jalla.
Penulis tidak setuju dengan penafsiran sebagian orang yang menafsirkan bahwa
para Malaikat memprotes Allâh atas kebijakan-Nya akan menciptakan
khalifah di muka bumi. Sebagian yang lain bahkan menggunakan kata yang lebih
ekstrim bahwa para Malaikat mendemo Allâh . Tidak! Sama sekali tidak seperti
itu. Para Malaikat tidak sedang protes. Bagaimana mungkin mereka memprotes
padahal mereka, seperti dinyatakan Allâh Azza wa Jalla sendiri
dalam al-Qur’an sebagai makhluq yang tidak pernah membangkang perintah Allâh
dan bahkan senantiasa taat melaksanakan apa pun yang diperintahkan Allâh
bagi mereka.[4]
Selain itu dapat diketahui dari penggunaan huruf alif sebelum fi’l mudhâri’ yang
merupakan harf al-istifhâm yang
berarti apakah, bukan mengapa. Para
Malaikat bertanya apakah Allâh Azza wa Jalla perlu
menciptakan khalifah jika dia dan keturunannya nanti menurut pemberitahuan
Allâh kepada para Malaikat-Nya adalah akan berpotensi melakukan kerusakan
di muka bumi.[5]
Kalaulah yang Allâh inginkan adalah agar mereka beribadah kepada-Nya,
bukankah selama ini para Malaikat senantiasa bertasbih dan mentaqdiskan
(mensucikan) Allâh Azza wa Jalla ?
Mufassir lain menganggap bahwa para Malaikat bertanya berdasarkan
ketidaktahuan mereka sehingga mereka menduga-duga jangan-jangan makhluk itu
tidak seperti mereka. Jangan-jangan mereka adalah makhluk yang durhaka (ma’shiyah) kepada Allâh Azza wa
Jalla dan pada akhirnya hanya akan membuat kerusakan dan
menumpahkan darah di muka bumi Allâh Azza wa Jalla dengan
berperang dan saling berbunuhan. Hal itu didasarkan kepada dugaan yang mereka
anggap sebagai pengetahuan spesifik (‘ilm khâssh) mereka
bahwa jenis makhluq yang akan diciptakan Allâh itu memiliki kecenderungan
melakukan kerusakan dan pertumpahan darah.[6] Sebagian Mufassir
mendasarkan dugaan para Malaikat terhadap makhluq Allâh bernama Jinn yang
pernah menghuni bumi terlebih dahulu dan mereka melakukan kerusakan di muka
bumi. Keterangan seperti ini didasarkan kepada keterangan al-Dhahak yang
bersumber kepada Ibn ‘Abbas dan keterangan Mujahid yang bersumber kepada
Abdullah ibn ‘Amr.[7]
Pertanyaan dan anggapan (bukan keraguan dan perasaan dengki) para
Malaikat dijawab oleh Allâh Azza wa Jalla bahwa
semua itu sudah diperhitungkan secara matang atas dasar Kemahatahuan-Nya yang
melampaui pengetahuan semua makhluq-Nya, termasuk para Malaikat. Semua yang
akan Allâh Azza wa Jalla lakukan atas
makhluq-Nya sudah Allâh Azza wa Jalla skenariokan
dengan penuh detil yang tidak ada cacatnya. “Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kalian ketahui.” Allâh Azza wa Jalla bermaksud menyadarkan para
Malaikat-Nya bahwa sesungguhnya Dia mengetahui kemaslahatan dan hikmah sesuatu
yang tidak mereka ketahui. Termasuk dalam penciptaan seorang khalifah, tentu
ada suatu hikmah yang boleh jadi tidak mereka ketahui.
عَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ
عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِى بِأَسْمَآءِ هَــؤُلَاءِ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
“31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman:
“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian mamang orang-orang yang
benar!” (QS
al-Baqarah [2]: 31)
Selanjutnya Allâh mengajarkan
kepada Adam nama-nama. Dan adalah hak Allâh Azza wa Jalla sepenuhnya
untuk mengajarkan sesuatu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Oleh
Allâh Azza wa Jalla, Adam as diajari oleh Allâh
nama-nama ciptaan-ciptaan Allâh Azza wa Jalla (al-makhluqât). Setelah nama-nama itu dapat Adam ketahui
dan ingat dengan baik, selanjutnya Allâh Azza wa Jalla perlu
membuktikan apa yang pernah disampaikan-Nya kepada para Malaikat terkait
kemahatahuan-Nya. Oleh Allâh Azza wa Jalla,
nama-nama itu diajukan kepada Malaikat untuk mereka sebutkan satu persatu jika
mereka benar-benar mengetahuinya. Hal ini penting karena akan berkait erat
dengan pernyataan Allâh di ayat terdahulu, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
قَالُوْا
سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ
الْحَكِيْمُ
“32. Mereka
menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang
Telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mengetahui
lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Baqarah [2]: 32)
Malaikat mengakui keterbatasan pengetahuan mereka. Mereka tidak mampu
menyebutkan nama-nama yang ditunjuk oleh Allâh Azza wa Jalla.
Mereka juga menyadari bahwa pengajar mereka adalah Allâh Yang Maha ‘Alim
lagi Maha Hakim. “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah
Yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Semua makhluq Allâh diberi pengetahuan yang terbatas sifatnya, termasuk
para Malaikat yang lebih banyak mengetahui hal-hal yang ghaib menurut pandangan
manusia. Hanya Allâh sendirilah yang paling mengetahui apa saja yang ada
di alam Allâh Azza wa Jalla, langit maupun bumi,
dunia maupun akhirat. Karena Dia Yang Maha Tahu, maka banyak sekali
kebijaksanaan-Nya (hikmah) yang tidak
akan mampu ditembus oleh makhluq-Nya, kecuali jika Allâh sendiri yang
berkenan memberitahukannya. Karena itu Allâh Azza wa Jalla disebut
sebagai hakîm, Yang Maha Bijaksana, yang memiliki
kebijaksanaan yang paling tinggi. Meskipun terkadang para Malaikat kurang
mengerti. Meskipun terkadang akal manusia menemui kebuntuan dalam membaca
kebijaksanaan-Nya.
قَالَ
يَـــــــئَادَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ
بِأَسْمَآئِهِمْ قاَلَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّى أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَ أَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
33. ”Allâh berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah
kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka
nama-nama benda itu, Allâh berfirman: “Bukankah sudah Aku katakan kepada
kalian, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan
mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan?”
Untuk membuktikan kebenaran Allâh Azza wa Jalla dan
kesalahan mereka yang terkesan mengesampingkan kemahatahuan dan kebijakan-Nya,
Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Adam menyebutkan
nama-nama itu. Adam pun dengan patuh menyebutkan nama-nama itu dengan
sebaik-baiknya sehingga Allâh Azza wa Jalla perlu
menyatakan kepada para Malaikat-Nya, “Bukankah sudah Aku katakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui
apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”
Bukan hanya sekedar mengajarkan nama-nama yang tidak mereka ketahui kepada
Adam. Apa saja yang ada di langit dan di bumi Allâh Azza wa Jalla mengetahuinya dengan baik.
Pengetahuan Allâh Azza wa Jallabahkan meliputi apa
yang disampaikan para Malaikat dan apa yang disembunyikan di dalam diri mereka
berupa persangkaan mereka terhadap bakal khalifah Allâh Azza wa Jalla di muka bumi.
وَإِذْقَالَ
لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لِأَدَمَ فَسَجَدُوْا إِلَّا إِبْلِيْسَ أَبَى
وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ
“34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:
“Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan
dan membesarkan diri dan adalah ia termasuk golongan yang Kafir.” (QS
al-Baqarah [2]: 34)
Setelah para Malaikat menyadari keagungan Allâh Azza wa Jalla dan mengetahui sebagian hikmah dari
penciptaan seorang khalifah di muka bumi, selanjutnya Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para Malaikat untuk
sujud kepada Adam ‘alaihi al-salâm. Sujud yang
dimaksud di sini bukanlah sujud sebagaimana layaknya sujudnya seorang hamba
kepada Sang Pencipta (al-Khâliq).[8] Sujud yang diperintahkan
Allâh Azza wa Jalla adalah sujud penghormatan (tahiyyah) dan pemuliaan (ta’zhîm) terhadap Adam sebagai makhluq ciptaan
Allâh Azza wa Jallayang memiliki kelebihan atas makhluq yang
lain karena adanya karunia Allâh Azza wa Jalla,[9] bukan sujud
memperhambakan diri (sujûd ’ibâdah). Kita semua telah
sama-sama mafhum bahwa sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata untuk
Allâh Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Esa. Bukan untuk yang
selain AllâhAzza wa Jalla.
Menghadapi perintah Allâh Azza wa Jalla itu
para Malaikat Allâh Azza wa Jalla sujud
kepada Adam karena taat dan patuh melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla. Namun ternyata ada yang tidak mau turut
bersujud, yaitu Iblis. Penyebutan nama Iblis setelah penyebutan nama Malaikat
dalam bentuk kalimat seperti dalam ayat tersebut di atas membawa kesan bahwa Iblis
termasuk golongan dari Malaikat. Sebagian Mufassir menyatakan bahwa Iblis
adalah termasuk golongan Malaikat. Sebagai bukti bahwa Iblis merupakan bagian
dari Malaikat adalah karena perintah itu sejak awal adalah ditujukan kepada
para Malaikat-Nya. Selanjutnya ada pernyataan tentang sujudnya para
Malaikat-Nya dalam bentuk kata kerja lampau (f’il mâdhi). Setelah
adanya penjelasan adanya perbuatan sujud ternyata ada pengecualian yang
ditunjukkan dengan huruf istitsnâ’ (exception, pengecualian).[10] Dan yang dikecualikan itu
bernama Iblis.
[1] Abdurrahman al-Tsa’alabi. 1996. Al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir
al-Qur’an. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut, Lebanon, Jilid 1,
hlm. 58
[2] Malaikat (malâikah, b. Arab) adalah bentuk
plural (jama’) dari kata tunggal (mufrad) malak. Adalah makhluq Allâh yang tercipta dari
cahaya (nûr). Ia adalah sesuatu yang ghaib yang tidak tersentuh
oleh indera manusia karena tidak berwujud jasmani, hanya Allâh Azza wa Jalla yang mengetahui hakikat sebenarnya
Malaikat. Tidak seperti manusia, mereka tidak makan dan tidak pula minum karena
mereka disucikan dari syahwat binatang (syahawât hayawâniyyah)
dan juga terbebas dari kecenderungan nafsu (al-muyûl al-nafsiyyah),
serta bersih dari dosa dan kesalahan. Mereka juga tidak disifatkan dengan sifat
lelaki maupun perempuan. Lihat al-Sayyid Sabiq. 1992. Al-‘Aqa’id al-Islamiyyah. Dar al-Fikr: Beirut, Lebanon,
hlm. 111-129
[3] Lihat Muhammad Ali al-Shabuni. 1999. Shafwah al-Tafasir: Tafsir li al-Qur’an al-Karim. Dar
al-Kutub al-Islamiyyah:Jakarta, Indonesia, Jilid 1, hlm. 48
[4] Lihat Q.S. al-Tahrim [66]: 6
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap
apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.”
[5] Qatadah termasuk diantara tokoh yang menjelaskan bahwa Allâh sudah
memberitahu para Malaikat terkait kemungkinan-kemungkinan khalifah bebuat
kerusakan dan berperang menumpahkan darah. Lihat Abu
al-Fida’ al-Hafizh ibn Katsir. 1997. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
Dar al-Fikr: Beirut, Lebanon, Jilid 1, hlm. 83
[6] Abu al-Fida’ al-Hafizh ibn Katsir. 1997. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Dar al-Fikr: Beirut,
Lebanon, Jilid 1, hlm. 83
[7] Lihat Abu al-Fida’ al-Hafizh ibn Katsir. 1997. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Dar al-Fikr: Beirut,
Lebanon, Jilid 1, hlm. 85
[8] السجود في الشرع وضع الجبهة على قصد العبادة , dalam
pandangan syara’, sujud adalah meletakkan dahi (di bumi) dengan tujuan ibadah. Lihat Nashiruddin al-Baidhawi. 2003. Tafsir
Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah:
Beirut, Lebanon, Jilid 1, hlm. 52
[10] Dalam kaedah bahasa Arab, istitsnâ’ ada
dua macam, muttashil dan munqathi’. Dalam istitsnâ’ muttashil,
yang dikecualikan adalah bagian dari kelompok atau jenis yang sama dengan
sebelumnya. Sedangkan istitsnâ’ munqathi’,
yang dikecualikan tidak termasuk bagian dari kelompok atau jenis yang disebut
sebelumnya.



