Baca Juga
Pembelajaran membaca adalah suatu kegiatan
peningkatan kemampuan siswa dalam keterampilan membaca. Menurut Heilman (1977),
membaca adalah interaksi dengan bahasa yang sudah dialihkodekan dalam tulisan.
Apabila seseorang dapat berinteraksi dengan bahasa yang sudah dialihkodekan
dalam tulisan, orang tersebut dipandang memiliki keterampilan membaca. Apabila
dihubungkan dengan siswa di SD, berarti tujuan pembelajaran membaca adalah agar
siswa memiliki keterampilan berinteraksi dengan bahasa yang dialihkodekan dalam
tulisan. Bahasa yang dialihkodekan dalam tulisan disebut teks.
Membaca merupakan aktivitas (kegiatan) memahami
bahasa tulis (teks). Teks merupakan area isi pembelajaran menulis. Artinya,
peningkatan kemampuan siswa untuk terampil membaca hanya bisa dilaksanakan
apabila siswa belajar berinteraksi melalui teks. Ada 2 aktivitas yang dilakukan
oleh pembaca, yakni:
1.
Membaca sebagai
proses, yakni mengacu pada kegiatan fisik dan mental
2.
Membaca sebagai
produk, yakni mengacu pada konsekuensi dari kegiatan yang dilakukan pada saat
proses membaca, misalnya: pembaca menjadi mengetahui bahwa
peningkatan keterampilan membaca itu penting, atau setelah dia membaca berita
pada Koran, dia jadi mengetahui bahwa landasan untuk pendaratan helicopter
George Bush dibangun dengan dana yang tidak sedikit meskipun itu tidak jadi
digunakan.
Proses membaca merupakan kegiatan yang kompleks
dan rumit. Ada sejumlah aspek yag dituntut dari pembaca. Aspek-aspek itu
adalah:
1.
Aspek sensori,
yakni kemampuan pembaca untuk memahami symbol-simbol teks
2.
Aspek
perceptual, yakni kemampuan pembaca untuk menginterpretasikan symbol-simbol
teks (apa yang dilihat dan apa yang tersirat)
3.
Aspek schemata,
yakni kemampuan pembaca untuk menghubungkan pesan tertulis dengan struktur
pengetahuan dan pengalaman yang telah ada
4.
Aspek berpikir,
yakni kemampuan pembaca untuk membuat inferensi dan evaluasi dari teks
- Aspek
afektif, yakni kemampuan pembaca untuk membangkitkan dan menghubungkan
minat dan motivasi dengan teks yang dibaca.
Kelima aspek tersebut harus menciptakan suatu
hubungan yang berimbang (harmonis) pada saat proses membaca.
Pembelajaran membaca permulaan diberikan di
kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan
menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat
membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan
merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan
sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan
tingkatan belajar membaca (learning to read).
Membaca lanjut merupakan tingkatan proses
penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.
Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua
tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan
yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula
pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga
pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan
dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan.
UANG
I.
Sejarah Uang
Setiap hari kalian meminta uang kepada ayah ibu. Kalian gunakan untuk apa uang tersebut? Dapatkah kalian membeli buku dengan kayu ? Segala sesuatu yang kalian beli harus dibayar dengan uang. Bagaimana uang dapat ditemukan? Mengapa setiap orang perlu uang ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kalian pelajari bab ini. Pada zaman dahulu, manusia menghasilkan barang-barang sendiri untuk mencukupi kebutuhannya. Namun, seiring dengan meningkatnya kebutuhan, manusia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhannya, setiap orang membutuhkan orang lain. Kebutuhan terhadap barang dan jasa yang tidak dapat diproduksi sendiri diperoleh dari pihak lain yang dilakukan dengan cara barter. Barter adalah proses tukar-menukar barang.
1. Alasan Meninggalkan Barter
Dalam perkembangannya, ternyata cara barter
menemui beberapa kesulitan sebagai berikut.
a. Sulit menemukan orang yang cocok untuk
diajak barter.
b. Sulit menemukan nilai barang yang akan
ditukarkan.
c. Sulit untuk menyimpan barang yang ditukarkan
Kesulitan yang terdapat dalam barter akhirnya mendorong munculnya cara lain untuk melakukan tukar-menukar, yaitu pertukaran dengan uang barang. Uang barang dapat berupa kulit, emas, kerang, atau garam. Penggunaan uang barang ternyata juga memiliki banyak kesulitan. Kesulitan tersebut timbul karena pada umumnya barang yang dipakai sebagai perantara mempunyai sifat-sifat sebagai berikut.
a.
Nilainya Tidak
Stabil
Untuk
barang-barang tertentu sering mengalami perubahan nilai dalam waktu yang
relatif singkat
b. Sulit Disimpa
Orang mengalami
kesulitan untuk menyimpan barang-barang tertentu atau mungkin untuk menyimpan
dibutuhkan biaya yang cukup besar.
c. Tidak Tahan Lama
Beberapa barang
yang dipakai sebagai uang barang ternyata ada yang mudah rusak, misalnya garam.
Garam akan mencair jika disimpan terlalu lama.
d. Sulit untuk Dipindahkan ke Tempat Lain
Ada sebagian
barang yang sulit dipindahkan karena ukurannya yang terlalu besar atau mungkin
bobotnya yang terlalu berat. Hal tersebut dapat mempersulit seseorang jika dia
ingin bepergian ke tempat yang cukup jauh.
2. Alasan Menggunakan Uang Barang
Kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh uang barang membuat manusia memilih emas dan perak untuk dipakai sebagai perantara tukarmenukar dengan alasan sebagai berikut.
a. Mudah dibawa pergi atau dipindahkan.
b. Diterima dan
dipercaya oleh umum.
c. Jumlahnya
terbatas.
d. Tahan lama
atau tidak mudah rusak.
e. Mudah
disimpan.
f. Nilainya
tetap untuk jangka waktu yang panjang.
Manusia kemudian membuat uang dari bahan emas dan perak. Dalam perkembangan selanjutnya, uang logam yang beredar di masyarakat tidak lagi terbuat dari emas dan perak. Namun, pada umumnya terbuat dari perunggu dan aluminium karena nilai emas terlalu tinggi. Selain uang logam, kita juga menggunakan uang kertas, yaitu uang yang bahan pembuatnya berasal dari kertas. Alasan manusia memilih perunggu, aluminium, dan kertas sebagai bahan untuk membuat uang adalah karena ketiga benda tersebut harganya lebih murah dibanding benda lain, terutama jika dibandingkan dengan emas dan perak. Berdasarkan uraian mengenai tahap atau asal usul uang tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan uang adalah benda yang memiliki syarat-syarat tertentu yang dapat digunakan atau diterima oleh masyarakat sebagai perantara dalam melakukan tukar-menukar barang dan jasa.
terbesar adalah
100.000 rupiah.



