Baca Juga
BAB VI
peserta didik
A. Dasar-dasar Kebutuhan Anak untuk Memperoleh Pendidikan
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa.
Allah Berfirman :
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& w cqßJn=÷ès? $\«øx© @yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$#
t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur öNä3ª=yès9 crãä3ô±s? ÇÐÑÈ
“Tuhan itu melahirkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun”. (QS. An-Nahl : 78)
Sehingga keharusan mendapat pendidikan mengandung beberapa aspek kepentingan, antara lain:
1. Aspek `Paedagogis
Dalam aspek ini, para ahli didik memandang manusia sebagai animal educandum makhluk yang memerlukan pendidikan. Potensi yang dimiliki manusia dapat di didik dan di kembangkan sesuai yang diharapkan menurut kemampuan.
2. Aspek Sosiologis dan Kultural
Menurut ahli sosiologi pada prinsipnya, manusia adalah homosccius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau yang memiliki ghorizah (instink) untuk hidup bermasyarakat.
Sebagai mana firman Allah swt:
y7Ï9ºs cr'Î/ ©!$# öNs9 à7t #ZÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçÉitóã $tB
öNÍkŦàÿRr'Î/ cr&ur ©!$# ììÏJy ÒOÎ=tæ ÇÎÌÈ
“53. (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Anfal:53)
[621] Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.
3. Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini ialah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia itu adalah makhluk yang berketuhanan yang menurut istilah ahli disebut homodivinous(makhluk yang percaya kepada Tuhan) atau disebut pula: homoreligiousartinya makhluk yang beragama.
Pendidikan Islam harus membimbing, menuntun, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak didik dalam berbagai bidang.
Menurut al-Ghazali, bahwa anak adalah amanah Allah dan harus dijaga dan dididik untuk mencapai keutamaan dalam hidup dan mendekatkan diri kepada Allah.
B. Pertumbuhan Anak (Manusia)
Menurut pendapat para ahli mengenai periodesasi pertumbuhan anak di golongkan menjadi 3 macam, yaitu :
1. Periodisasi Pertumbuhan yang berdasarkan Biologis
a. Masa embrio (masih dalam perut ibu)
b. Masa kanak-kanak
c. Masa Kuat (Kuat jasmani dan rohani atau pikirannya)
d. Masa Tua
e. Meninggal dunia
2. Periodisasi Pertumbuhan yang berdasarkan Psikologis
a. Masa kanak-kanak : dari lahir sampai umur 7 tahun.
b. Masa Berbicara : mulai usia 8 bulan sampai 14 tahun.
Masa ini dapat juga disebut periode cita-cita, sebab pada masa ini anak menuju ke arah segala sesuatu yang berhubungan erat dengan tabiat dan akalnya,
c. Masa akil baligh : dari umur 15 sampai 21 tahun.
d. Masa syabibah (adolesens) : dari umur 22 sampai 26 tahun.
e. Masa rujulah (pemuda pertama atau dewasa) dari 29 sampai umur 42 tahun.
f. Masa kuhulah dari 43 sampai 49 tahun.
g. Masa umur menurun dari 50 sampai 56 tahun.
h. Masa Kakek-kakek/Nenek-nenek pertama dari 56 sampai 63 tahun.
i. Masa kakek-kakek/nenek-nenek pertama dari 64 sampai 75 tahun.
j. Masa Haram (pikun) dari 75 sampai 91 tahun.
k. Akhirnya masa meninggal dunia.
3. Periodisasi Pertumbuhan yang berdasarkan Didaktis/pedagogis
a. Periode pendidikan pertama : sejak lahir sampai umur 6 tahun.
Periode ini adalah masa pendidikan secara dresser (pembiasaan) dalam hal-hal yang baik.
b. Periode pendidikan kedua yakni anak didik tentang adab kesusilaan. Pendidikan ini dimulai umur 6 tahun.
c. Periode pendidikan ketiga : anak dididik seksualnya dengan cara memisahkan tempat tidurnya dari orang tua. Anak dalam periode ini menginjak umur 9 tahun.
d. Periode pendidikan keempat yakni bagi anak yang telah berumur 13 tahun diharuskan menjalankan sembahyang guna menenangkan jiwanya, karena masa ini anak mulai memasuki alam pubertas (strum and drang) di mana pada masa ini anak mengalami kegoncangan-kegoncangan jiwa yang sangat membutuhkan pimpinan yang teguh.
e. Periode pendidikan kelima yakni bagi anak umur 16 tahun.
Pada masa ini anak telah mengalami masa kedewasaan nafs birahinya (seksnya) yang banyak menghajatkan penjagaan dari orang tuanya agar tidak terjadi ekses-ekses seksual yang merugikan.
f. Periode pendidikan keenam yakni bagi umur dewasa (16 sampai 21 tahun).
Pada waktu ini anak telah dilepaskan oleh orang tua dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tidak bergantung lagi kepada orang tuanya. Anak pada masa ini harus mendidik dirinya sendiri, harus self-standing.
Disamping itu di dalam Islam didapati pula periodesasi pertumbuhan yang dinamakan: masa hadhanahatau masa pendidikan kanak-kanak (berumur 0-7 tahun). Pada masa ini yang berhak menjadi pendidiknya ialah pihak ibu, karena ibu adalah lebih kasih sayang terhadap anak daripada ayahnya.Sedangkan untuk masa selanjutnya adalah masa dhom(berumur 7 tahun sampai dewasa). Pada masa ini tanggung jawab pendidikan diletakkan kepada ayahnya bila laki-laki untuk dilatih dengan pekerjaan yang berhubungan dengan tugas kaum pria. Sedangkan untuk anak perempuan tetap pada ibunya sampai kawin, karena ibulah yang dapat mendidik anaknya dalam hal yang mengenai pekerjaan kewanitaan.
Dari uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa para ahli didik Islam umumnya telah mempunyai perhatian terhadap pertumbuhan anak.
C. Batas-batas Pendidikan Islam
1. Batas Awal Pendidikan Islam
Dr. Asma Hasan Fahmi mengemukakan bahwa dikalangan ahli didik Islam berbeda pendapat tentang kapan anak mulai dapat dididik. Sebagian di antara mereka mengatakan setelah anak berusia 4 tahun.
Prof. M. Athiyah al-Abrasyi menceritakan di dalam bukunya “Dasar-dasar pokok pendidikan Islam” yang kesimpulannya yaitu pendidikan itu dimulai setelah anak berumur 5 tahun. Urutan-urutan ilmu yang diberikan adalah membaca Al-Qur’an, mempelajari syairnya, sejarah nenek moyang dan kaumnya, mengendarai kuda dan menggunakan senjata.
Menurut al-‘Abdari anak mulai dididik dalam arti sesungguhnya setelah berusia 7 tahun. Karena itu beliau mengkritik orang tua yang menyekolahkan anaknya pada usia yang masih terlalu yaitu sebelum usia 7 tahun itu.
Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa belum ada kesepakatan para ahli tentang kapan anak mulai dididik, Namun jika diterapkan di dalam praktek pendidikan maka dapat di jelaskan sebagai berikut yaitu untuk dapat memasuki pendidikan pra sekolah sebaiknya setelah anak berumur 5 tahun, Sedangkan untuk memasuki pendidikan dasar, maka sebaiknya setelah anak berumur 7 tahun.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling unik dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lainnya. Keunikannya terletak pada : manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia : sebagai khalifah pemakmur di bumi dan kelak di hari akhirat diminta pertanggungjawabannya.
Allah SWT berfirman :
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OÈqø)s? ÇÍÈ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tiin : 4)
Oleh karena itu manusia seyogyanya dibimbing dan diarahkan sejak awal pertumbuhannya agar kehidupannya berjalan mulus. Bimbingan yang dilakukan sejak dini mempunyai pengaruh amat besar bagi kehidupan di masa dewasa. Sabda Rasulullah SAW :
“Belajarlah (carilah ilmu) sejak engkau masih dalam buaian sampai ke liang lahat”.
Maksudnya semua apa saja yang dipelajari anak di waktu kecil mempunyai kesan/pengaruh yang amat dalam baginya dan sulit dihilangkan daripadanya, kalaupun ingin dihilangkan harus dengan melalui proses yang lama. Karena telah merasuk dalam jantung hatinya sehingga telah mendarah daging bagi dirinya. Karena itu kepada orang tua dianjurkan untuk membimbing anaknya sejauh yang dapat dilakukan.
2. Batas Akhir Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan Islam yaitu terbentuknya kepribadian muslim.
Menurut sabda Rasulullah adapun batas terakhir pendidikan Islam yaitu sampai akhir hayat, begitu besar perhatian Islam terhadap pentingnya pendidikan ini, sampa-sampai Rasulullah memerintahkan kepada umatnya yang sedang menunggui orang yang akan sakaratul maut supaya menuntunnya membaca kalimah “laa ilaaha illallah” Rasulullah bersabda yang artinya : “Ajarilah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimah “laa ilaaha illallah”.
Menurut sabda Rasulullah adapun batas terakhir pendidikan Islam yaitu sampai akhir hayat, begitu besar perhatian Islam terhadap pentingnya pendidikan ini, sampa-sampai Rasulullah memerintahkan kepada umatnya yang sedang menunggui orang yang akan sakaratul maut supaya menuntunnya membaca kalimah “laa ilaaha illallah” Rasulullah bersabda yang artinya : “Ajarilah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimah “laa ilaaha illallah”.
D. Kemungkinan Keberhasilan Pendidikan Islam
1. Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Nativisme berkeyakinan bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Maka, keyakinan mereka yang demikian di dalam Ilmu pendidikan di sebut juga Aliran pesimisme pedagogis. Tokoh aliran ini yaitu Schopenhauer seorang filosof Jerman. Nativisme berasal dari kata natus= lahir, nativus = kelahiran, pembawaan.
2. Aliran Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu ditentukan olehfaktor lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. aliran ini disebut juga aliran optimisme pedagogis. Tokoh aliran ini yaitu John Locke. Empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman.
3. Aliran Konvergensi
Aliran ini berpendapat bahwa manusia itu ditentukan oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Pndapat ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh William Stern. Tetapi dalam perkembangannya bertolak belakang dengan pendapat dari Drs. M. Ngalim Purwanto, menurut beliau “Manusia bukan hasil belaka dari pembawaannya dan lingkungan, manusia tidak hanya diperkembangkan tetapi ia memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia ialah makhluk yang dapat dan sanggup memilih dan menentukan sesuatu yang mengenai dirinya secara bebas. Karena itulah manusia ia berteanggung jawab terhadap segala perbuatannya ; ia dapat juga mengambil keputusan yang berlainan daripada apa yang pernah diambilnya.
4. Pandangan Islam tentang Keberhasilan Pendidikan
Islam menyatakan bahwa manusia lahir di dunia membawa “pembawaan” yang di sbut “fitrah”. Fitrah ini berisi “potensi untuk berkembang”. Potensi ini dapat berupa keyakinan beragama, perilaku untuk menjadi baik ataupu buruk dan lain sebagainya yang seluruhnya harus dikembangkan agar ia bertumbuh secara wajar sebagai hamba Allah.
Rasulullah SAW Bersabda :
“Semua anak dilahirkan membawa fitrah (bakat keagamaan), maka terserah kepada kedua orang tuanya untuk menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.
Allah SWT Berfirman :
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ ôs% yxn=øùr& `tB $yg8©.y ÇÒÈ
ôs%ur z>%s{ `tB $yg9¢y ÇÊÉÈ
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) maka Allah mengilhamkan jiwa itu (jalan) kefasihan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya”.
(QS. As-Syamsu : 7-10)
(QS. As-Syamsu : 7-10)
E. Keutamaan Belajar
Allah SWT Berfirman :
* $tBur c%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuÏ9 Zp©ù!$2 4 wöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuÏj9
Îû Ç`Ïe$!$# (#râÉYãÏ9ur óOßgtBöqs% #sÎ) (#þqãèy_u öNÍkös9Î) óOßg¯=yès9 crâxøts ÇÊËËÈ
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama”. (QS. At-Taubah : 122)
Nabi Bersabda :
“Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke surga”.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Belajar mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan. Dengan belajar orang jadi pandai, akan mengetahui terhadap segala sesuatu yang dipelajarinya. Belajar merupakan perbuatan terpuji dan bernilai ibadah. Orang yang belajar bersungguh-sungguh disertai niat ikhlas ia akan memperoleh pahala yang banyak. Belajar di nilai sebagai perbuatan yang mendatangkan ampunan dari Allah SWT. Orang yang belajar dengan niat ikhlas kepada Allah diampuni dosanya.
Akhirnya demikian pentingnya pekerjaan belajar ini sehingga dihargai jihad fii sabilillah yaitu pahalanya sama dengan orang yang pergi berperang di jalan Allah untuk membela kebenaran agama.
F. Adab dan Sopan Santun Belajar
Agar anak didik itu memperoleh ilmu yang bermanfaat diperlukan adab atau tata krama untuk mengikuti pendidikan Islam.
Menurut Imam Al-Ghazali adab seorang pelajar mengikuti pelajaran antara lain :
1. Hendaklah seorang pelajar mengemukakan cita-cita yang suci murni dan dipenuhi oleh semangat yang suci
2. Sedikitkan perhubungan dengan urusan lain
3. Jangan menyombongkan diri, karena ilmu pengetahuan yang di pelajari
4. Hendaklah seorang pelajar itu tetap dan tenang belajar menghadapi seorang guru
5. Janganlah ia meninggalkan satu mata pelajaran yang hendak di pelajarinya, sebelum dimilikinya pelajaran itu.
6. Janganlah hendaknya mempelajari sekalian ilmu-ilmu pengetahuan itu, karena umur manusia tidak akan cukup untuk mempelajari sekalian ilmu itu.
7. Jangan mengambil tambahan pelajaran sebelum mengerti pelajaran yang lama, karena susunan ilmu itu teratur baik dan dapat membantu pelajaran lanjutannya.
8. Hendaklah tujuan pendidikan itu dihadapkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan jalan berbakti kepada-Nya.
9. Hendaklah pelajar mengetahui perbandingan faedah tiap-tiap mata pelajaran dengan ilmu-ilmu yang lain.
Menurut Prof. Dr. M. Athiyah Al-Abrasyi sebagai berikut :
1. Sebelum mulai belajar, siswa harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk karena belajar itu dianggap sebagai ibadat.
2. Dengan belajar itu ia bermaksud hendak mengisi jiwanya dengan fadhilah, mendekatkan diri kepada Allah
3. Bersedia mencari ilmu, termasuk meninggalkan keluarga dan tanah air,dengan tidak ragu-ragu berpergian ke tempat-tempat yang jauh sekalipun karena demi untuk mendatangi guru.
4. Hendaklah menghormati guru dan memuliakannya serta mengagungkannya karena Allah dan berdaya upaya pula menyenangkan hati guru dengan cara yang baik
5. Jangan terlalu sering menukar guru, tetapi haruslah ia berpikir panjang dulu sebelum bertindak hendak mengganti guru
6. Jangan merepotkan guru dengan banyak pertanyaan, Jangan berjalan di hadapannya, Jangan duduk di tempat duduknya dan jangan mulai berbicara kecuali setelah mendapat izin dari guru
7. Jangan membukakan rahasia kepada guru, jangan menipu guru, jangan pula meminta guru membukakan rahasia
8. Bersungguh-sungguh dan tekun belajar
9. Jiwa saling mencintai dan persaudaraan haruslah menyinari pergaulan antara siswa
10. Siswa haruslah memberi salam terlebih dahulu kepada gurunya, mengurangi percakapan di hadapan guru, jangan mengatakan kepada guru “Si anu bilang begini lain dari yang bapak katakan” dan jangan pula di tanya kepada guru siapa teman duduknya
11. Hendaklah tekun belajar, mengulangi pelajarannya di waktu senja dan menjelang shubuh. Waktu antara isya’ dan makan sahur itu adalah waktu yang penuh berkah
12. Bertekad untuk belajar hingga akhir umur, jangan meresahkan suatu cabang ilmu, tetapi hendaklah menganggap bahwa setiap ilmu ada faedahnya.
Menurut Syech Az-Zarnuji dalam kitab “Ta’limul Muta’alim”beberapa sifat dan tugas para penuntut ilmu yaitu :
1. Tawadhu’ sifat sederhana, tidak sombong tidak pula rendah hati
2. Effah
3. Tabah (tsabat), tahan dalam menghadapi kesulitan pelajaran dari guru
4. Sabar, tahan terhadap godaan hawa nafsu
5. Cinta ilmu dan hormat kepada guru dan keluarganya, dengan demikian ilmu akan bermanfaat
6. Sayang kepada kitab, menyimpannya dengan baik
7. Hormat kepada sesama penuntut ilmu dan tamalluk kepada guru dan kawan-kawan untuk menyadap ilmu dari mereka
8. Bersungguh-sungguh belajar dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya
9. Ajeg dan ulet dalam menuntut ilmu dan mengulang pelajaran
10. Wara’ (sifat menahan diri dari perbuatan/tingkah laku yang terlarang)
11. Punya cita-cita yang tinggi dlam mengejar ilmu pengetahuan
12. Tawakkal
G. Peserta Didik dalam Pendidikan Tasawuf
Murid ialah orang yang menerima pengetahuan dan bimbingan dalam melaksanakan amal ibadahnya, dengan memusatkan segala perhatian dan usahanya ke arah itu, melepas segala kemauannya dengan menggantungkan diri dan nasibnya kepada iradah Allah.
Murid di sini ada 3 tingkat, yaitu :
1. Mubtadi’ (pemula), yaitu mereka yang baru mempelajari syari’at. Jiwanya masih terikat pada kehidupan duniawi.
2. Mutawassith (tingkat menengah), yaitu orang yang sudah dapat melewati kelas persiapan, telah mempunyai pengetahuan yang dalam tentang syari’at.
3. Muntahid (tingkat atas), yaitu orang yang telah matang ilmu syari’atnya, sudah menjalani thariqat dan mendalami ilmu batiniyah.
4. kesimpulan dari uraian di atas yaitu bahwa di lingkungan tasawuf mereka mengadakan pentahapan murid untuk dapat memasuki tingkat/derajat tertinggi di bidang tasawuf. Tingkatan-tingkatan itu merupakan latihan-latihan yang tidak begitu saja mudah dilalui tetapi perlu dijalani dengan penuh ketekunan, keuletan dan kesabaran.
5. Untuk memperoleh keberhasilan diperlukan persyaratan dan adab sopan santun yang harus dilaksanakan dalam menempuh jalan tasawuf di bawah bimbingan syekh atau mursid.
6. Ia harus mampu bersikap sebagai jenazah yang sedang dimandikan, rela dan ikhlas di bolak-balik tanpa ada rasa menyesal sedikitpun.


